Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Sastra Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Jawa. Tampilkan semua postingan

25 Mei 2014

Sastra Jawa-Tionghoa

Sastra Jawa-Tionghoa adalah karya sastra dalam bahasa Jawa yang ditulis oleh orang Tionghoa di daerah Jawa. Karya-karya sastra ini terutama menyangkut cerita-cerita dari Tiongkok yang dialihbahasakan atau digubah ulang dalam bahasa Jawa. Selain itu ada pula karya-karya asli dalam bahasa Jawa yang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan komunitas Tionghoa di Jawa.
Karya sastra Jawa yang ditulis oleh orang Jawa mengenai orang Tionghoa tidaklah termasuk sastra Jawa-Tionghoa. Karya-karya ini antara lain adalah Babad Bangun Tapa (atau Babad Nonah Kuwi)[1] dan Babad Geger Pacinan[2]

Latar belakang

Bangsa Tionghoa telah berhubungan dengan Jawa tidak hanya selama ratusan tahun tetapi mungkin sudah ribuan tahun. Bukti tertua hubungan (budaya) antara Jawa dan Tiongkok ialah sebuah laporan oleh I Ching, seorang rohaniawan Tionghoa yang ingin mempelajari agama Buddha. Ia lalu belajar bahasa Sanskerta kepada seorang Jawa bernama Jñanabhadra.
Lalu pada sebuah prasasti berbahasa Jawa yang berasal dari abad ke-9 disebutkan frasa juru Cina yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai "Kepala bangsa China/Tionghoa". Hal ini membuktikan bahwa saat itupun sudah banyak warga dari Tiongkok yang menetap di pulau Jawa. Mereka lambat laun berbaur dengan penduduk setempat terutama di daerah-daerah pesisir. Lalu pada abad ke-18 dan terutama akhir abad ke-19 banyak pendatang dari Tiongkok yang bermukim di tanah Jawa.
Para pendatang ini di Jawa setelah sekian lama tidak semata-mata hanya menggunakan bahasa Tionghoa untuk berkomunikasi namun lalu juga menggunakan bahasa Jawa. Lalu merekapun akhirnya meniru bangsa Jawa dan mulai menuliskan karya sastra Tionghoa tidak hanya dalam bahasa Jawa namun juga menggunakan konvensi Jawa; yaitu menulis dalam bentuk tembang.

Catatan kaki

  1. ^ Karya ini mengenai pembuangan Sunan Pakubuwana VI di Ambon dan pernikahannya dengan seorang wanita Tionghoa bernama Kuwi
  2. ^ Karya ini merupakan karya sejarah mengenai pembantaian orang Tionghoa di Batavia dan pemberontakan mereka yang akhirnya mengakibatkan Keraton Mataram di Karasura dihancurkan.
Sumber: wikipedia

Sastra Jawa-Sunda

Sastra Jawa-Sunda adalah hasil karya sastra Sunda, baik yang berhubungan dengan Sunda maupun tidak, namun ditulis menggunakan bahasa Jawa oleh orang Sunda.

Pengantar

Orang Sunda yang menghuni bagian barat pulau Jawa sudah secara dini mengenal aksara. Prasasti-prasasti dinasti Tarumanagara yang diketemukan, ditarikhkan berasal dari abad ke-5 Masehi. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta. Lama-kelamaan kemudian orang-orang Sunda pun menuliskan karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda kuna.

Pengaruh budaya Jawa

Antara bagian barat pulau Jawa, tempat tinggal suku Sunda dan bagian timur, tempat tinggal suku Jawa yang sejati, sejak zaman dahulu kala sudah terjadi hubungan secara intensif. Sebenarnya batas timur budaya Sunda pada abad ke-5 Masehi diperkirakan berada kurang lebih di garis antara daerah yang sekarang disebut Kendal dan Dieng dan sekarang terletak di provinsi Jawa Tengah. Namun berkat ekspansi sukubangsa Jawa menuju ke barat, perbatasan antara budaya Sunda dan budaya Jawa berada lebih ke barat yaitu di sekitar Indramayu, Cirebon sampai ke Cilacap. Kemudian ada pula beberapa enklave di Jawa, terutama di Banten dan beberapa desa di Karawang.
Pengaruh-pengaruh budaya Jawa juga sudah terlihat dalam karya-karya sastra Sunda Kuna. Ditemukan ada beberapa kata-kata serapan dari bahasa Jawa (Kuna) dan beberapa karya sastra Jawa Kuna banyak pula yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sunda Kuna. Bahkan naskah tertua sastra Jawa Kuna berasal dari daerah Sunda di Jawa Barat. Misalkan naskah kakawin Arjunawiwaha yang tertua dan sekaligus naskah lontar (atau sebenarnya nipah) tertua pula berasal dari daerah sekitar Bandung. Naskah ini sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan bertarikhkan tahun 1334 Masehi. Selain Arjunawiwaha masih ada karya-karya sastra Jawa Kuna yang berasal dari daerah Sunda, seperti misalkan Kunjarakarna.
Namun pengaruh yang efeknya lebih terasa dan lestari terjadi pada abad ke-16 dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa serta ekspansi kerajaan Mataram II yang dipimpin oleh Sultan Agung. Sultan Agung ingin mempersatukan pulau Jawa dan sekitarnya dalam kerangka negara kesatuan Mataram. Meski hegemoni Mataram atas Jawa Barat berakhir pada tahun 1705, pengaruh budaya Jawa tidaklah berakhir, justru malah diperkuat dengan ditetapkannya bahasa Jawa sebagai bahasa resmi pemerintahan di Jawa Barat dan diputuskannya pemakaian sistem pembagian administratif Jawa. Pembagian administratif model Jawa ini adalah pembagian daerah kepada kabupaten-kabupaten yang berbeda-beda.

Sastra Jawa-Sunda

Dengan diruntuhkannya Pajajaran, kerajaan Hindu-Sunda terakhir, oleh Banten pada tahun 1579, bermulalah sejarah baru untuk kesustraan Sunda. Mirip dengan situasi di Bali dan mungkin juga Madura setelah ditaklukkan oleh Majapahit, di Sunda orang-orang berhenti menulis karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda dan aksara Sunda kuna. Mereka mulai menulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Jawa dan aksara pegon. Bahasa Sunda kelak mulai dipergunakan lagi untuk menulis pada pertengahan abad ke-19 dengan pudarnya pengaruh Mataram dan menguatnya pengaruh pemerintahan Hindia-Belanda. Bahkan pemerintah kolonial justru yang menggalakkan pemakaian bahasa Sunda dalam medium tertulis. Pemerintah koloni kala itu ingin meneliti budaya Sunda secara lebih mendalam.
Sastra Jawa-Sunda bisa dibagi menjadi tiga berdasarkan daerah asal yaitu: Banten, Indramayu dan Cirebon, dan Priangan.

Ciri khas sastra Jawa-Sunda

Bahasa Jawa yang dipergunakan untuk menuliskan karya sastra Jawa-Sunda secara umum biasanya adalah dialek bahasa Jawa khas Cirebon. Salah satu ciri khas dialek ini adalah tidak adanya perbedaan antara fonem retrofleks dan dental., mirip dengan bahasa Jawa yang dipergunakan dalam kesusastraan Jawa-Bali pula. Sehingga semua fonem /t./ atau /th/ dan /d./ atau /dh/ dilafazkan dan ditulis sebagai /t/ atau /d/ dental.
Kemudian dalam aksara Jawa yang dipergunakan oleh orang Sunda ada sedikit perbedaan ejaan. Aksara swara atau vokal /o/ yang biasanya ditulis dengan menggunakan dua tanda diakritik, taling dan tarung, oleh orang Sunda hanya ditulis dengan tarung saja. Sehingga sebenarnya yang ditulis bukan vokal /o/ namun /a:/ (a panjang). Oleh orang Sunda aksara Jawa-Sunda disebut Cacarakan.
Sastra Jawa biasa ditulis dalam bentuk syair atau tembang, yang ditulis dalam bentuk prosa atau gancaran lebih sedikit jumlahnya dan biasa tidak dianggap sastra. Dari bermacam-macam jenis metrum Jawa, yang dikenal di Sunda hanyalah Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.

Daftar karya sastra Sunda-Jawa

Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun berasal dari daerah Sunda, silakan menambahkannya pada daftar ini.

Karya Sastra Sunda-Jawa yang agak kontroversial

Pada awal dasawarsa 1970-an di daerah Cirebon, ditemukan dua naskah yang berisikan teks Pustaka Nagarakretabhumi dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara (bagian dari kumpulan naskah yang dikenal juga dengan naskah Wangsakerta) dalam bahasa Jawa Kuna. Kala itu penemuan ini cukup menggemparkan, ada teks Jawa Kuna yang tidak dikenal berasal dari Jawa Barat. Namun setelah diteliti lebih lanjut, hasilnya lebih menggemparkan lagi, sebab diduga keras kedua teks yang memuat 'sejarah' ini merupakan karangan modern.
Namun biar bagaimanapun juga, kedua teks ini harus dianggap sebagai contoh ekspresi kesusastraan dalam bahasa Jawa (Kuna) dan berasal dari paruh kedua abad ke-20. Ditilik dari sudut pandang terakhir ini, hal ini sungguh menarik. Karena selain isinya menarik, gaya bahasanya bisa dikatakan cukup bagus pula.

Referensi

  • Edi S. Ekajati, 1996, ‘Cultural Plurality: The Sundanese of West Java’, di Illuminations. The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
  • Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa, 1999, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 5A. Jawa Barat. Koleksi Lima Lembaga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan École Française d’Extrême-Orient.
 Sumber: wikipedia

Sastra Jawa-Bali

Bali ditaklukkan oleh Majapahit pada tahun 1343 Masehi. Setelah itu, pemerintahan gaya Jawa diterapkan di Bali. Para bangsawan Bali juga berasal dari Jawa.
Setelah agama Islam berjaya di Jawa semenjak abad keenam belas, konon banyak orang-orang Jawa dari kalangan bangsawan yang melarikan diri ke Bali. Hal ini pantas dipertentangkan, sebab proses Islamisasi di Jawa berjalan secara sangat bertahap.
Tema-tema yang dibahas dalam sastra Jawa-Bali mencerminkan apa yang pernah populer di Jawa pada masa Kerajaan Majapahit sebab Sastra Jawa-Bali merupakan terusan Sastra Jawa Tengahan.

Daftar Karya Sastra

Kakawin

Lain-Lain

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi.

Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan.

Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.
Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.

Daftar Karya Sastra

Bacaan Tambahan

  • G. Quinn, The novel in Javanese: aspects of its social and literary character, 1992.
  • G. Quinn, Novel berbahasa Jawa: berbagai aspek tentang ciri sastra dan sosialnya, (penerjemah dari bahasa Inggris: Raminah Baribin), 1995.
 Sumber: wikipedia

Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi.
Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting.
Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna.
Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.
Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali.

Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru

Masa Islam

Masa Renaisans dan sesudahnya

Babad-Babad

 Sumber: wikipedia

Sastra Jawa Pertengahan

Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Setelah ini, sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali.

Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. Karya-karya ini disebut kidung.

Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa

  1. Tantu Panggelaran
  2. Calon Arang
  3. Tantri Kamandaka
  4. Korawasrama
  5. Pararaton

Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi

  1. Kakawin Dewaruci
  2. Kidung Sudamala
  3. Kidung Subrata
  4. Kidung Sunda
  5. Kidung Panji Angreni
  6. Kidung Sri Tanjung  
Sumber : wikipedia 

Sastra Jawa

Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi), Pare, Kediri Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
Setelah prasasti Sukabumi, ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna).
Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa:
Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali, yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Selain itu, ada pula Sastra Jawa-Lombok, Sastra Jawa-Sunda, Sastra Jawa-Madura, dan Sastra Jawa-Palembang.
Dari semua sastra tradisional Nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi RI, tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang diutamakan.

Bahasa Jawa pertama-tama ditulis dalam aksara turunan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan. Aksara ini yang menjadi cikal bakal aksara Jawa modern atau Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang. Dengan berkembangnya agama Islam pada abad ke-15 dan ke-16, huruf Arab juga dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa; huruf ini disebut dengan nama huruf pegon. Ketika bangsa Eropa menjajah Indonesia, termasuk Jawa, abjad Latin pun digunakan untuk menulis bahasa Jawa.

Kategori sastra Jawa

Sastra Jawa secara global bisa dibagi menjadi dua kategori yaitu yang ditulis dalam bentuk prosa atau puisi. Dalam bentuk prosa biasanya disebut gancaran dan dalam bentuk puisi biasa disebut dengan istilah tembang. Sebagian besar karya sastra Jawa ditulis dalam bentuk tembang mulai dari awal bahkan sampai saat ini. Untuk informasi lebih lanjut silakan lihat artikel: Tembang dalam Sastra Jawa.

Sumber: wikipedia