Jawa adalah kancah pertemuan dari berbagai agama dan budaya. Pengaruh budaya India adalah yang datang pertama kali dengan agama Hindu-Siwa dan Buddha, yang menembus secara mendalam dan menyatu dengan tradisi adat dan budaya masyarakat Jawa.[27] Para brahmana kerajaan dan pujangga istana mengesahkan kekuasaan raja-raja Jawa, serta mengaitkan kosmologi Hindu dengan susunan politik mereka.[27] Meskipun kemudian agama Islam
menjadi agama mayoritas, kantong-kantong kecil pemeluk Hindu tersebar
di seluruh pulau. Terdapat populasi Hindu yang signifikan di sepanjang
pantai timur dekat pulau Bali, terutama di sekitar kota Banyuwangi. Sedangkan komunitas Buddha umumnya saat ini terdapat di kota-kota besar, terutama dari kalangan Tionghoa-Indonesia.
Sekumpulan batu nisan Muslim yang berukiran halus dengan tulisan
dalam bahasa Jawa Kuna dan bukan bahasa Arab ditemukan dengan
penanggalan tahun sejak 1369 di Jawa Timur. Damais menyimpulkan itu adalah makam orang-orang Jawa yang sangat terhormat, bahkan mungkin para bangsawan.[28] M.C. Ricklefs
berpendapat bahwa para penyebar agama Islam yang berpaham sufi-mistis,
yang mungkin dianggap berkekuatan gaib, adalah agen-agen yang
menyebabkan perpindahan agama para elit istana Jawa, yang telah lama
akrab dengan aspek mistis agama Hindu dan Buddha.[29] Sebuah batu nisan seorang Muslim bernama Maulana Malik Ibrahim yang bertahun 1419 (822 Hijriah) ditemukan di Gresik,
sebuah pelabuhan di pesisir Jawa Timur. Tradisi Jawa menyebutnya
sebagai orang asing non-Jawa, dan dianggap salah satu dari sembilan
penyebar agama Islam pertama di Jawa (Walisongo), meskipun tidak ada bukti tertulis yang mendukung tradisi lisan ini.
Saat ini lebih dari 90 persen orang Jawa menganut agama Islam, dengan sebaran nuansa keyakinan antara abangan (lebih sinkretis) dan santri (lebih ortodoks). Dalam sebuah pondok pesantren di Jawa, para kyai
sebagai pemimpin agama melanjutkan peranan para resi di masa Hindu.
Para santri dan masyarakat di sekitar pondok umumnya turut membantu
menyediakan kebutuhan-kebutuhannya.[27]
Tradisi pra-Islam di Jawa juga telah membuat pemahaman Islam sebagian
orang cenderung ke arah mistis. Terdapat masyarakat Jawa yang
berkelompok dengan tidak terlalu terstruktur di bawah kepemimpinan tokoh
keagamaan, yang menggabungkan pengetahuan dan praktik-praktik pra-Islam
dengan ajaran Islam.[27]
Agama Katolik Roma tiba di Indonesia pada saat kedatangan Portugis dengan perdagangan rempah-rempah.[30] Agama Katolik mulai menyebar di Jawa Tengah ketika Frans van Lith, seorang imam dari Belanda, datang ke Muntilan, Jawa Tengah pada tahun 1896. Kristen Protestan tiba di Indonesia saat dimulainya kolonialisasi Perusahaan Hindia Timur Belanda
(VOC) pada abad ke-16. Kebijakan VOC yang melarang penyebaran agama
Katolik secara signifikan meningkatkan persentase jumlah penganut
Protestan di Indonesia.[31]
Komunitas Kristen terutama terdapat di kota-kota besar, meskipun di
beberapa daerah di Jawa tengah bagian selatan terdapat pedesaan yang
penduduknya memeluk Katolik. Terdapat kasus-kasus intoleransi bernuansa
agama yang menimpa umat Katolik dan kelompok Kristen lainnya.[32]
Tahun 1956, Kantor Departemen Agama di Yogyakarta melaporkan bahwa terdapat 63 sekte aliran kepercayaan di Jawa yang tidak termasuk dalam agama-agama resmi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 35 berada di Jawa Tengah, 22 di Jawa Barat dan 6 di Jawa Timur.[27] Berbagai aliran kepercayaan (juga disebut kejawen atau kebatinan) tersebut, di antaranya yang terkenal adalah Subud,
memiliki jumlah anggota yang sulit diperkirakan karena banyak
pengikutnya mengidentifikasi diri dengan salah satu agama resmi pula.[33]
Sumber: wikipedia



0 komentar:
Posting Komentar